Rabu, 01 Februari 2012
Move Out!
Sebelumnya makasih udah membaca blog yang aku tulis pada masa percobaan galau ini. Makasih udah nyempetin menilik tulisan labil yang pada masanya memang menjadi media kuat buat aku curhat. And time flies, I move on . . . so, does my blog :)
I welcome you to my brand-new blog, just click the pic.
1. Things are written in English in www.amaliaamandakasih.wordpress.com
2. Tulisan dalam bahasa ibu, Indonesia
oh, ya credit for banner goes to Rio, sketchnya yang tak minta tak edit jadi banner blog hohoho :D
| Reaksi: |
Senin, 23 Januari 2012
Senin, 24 Oktober 2011
ANTI-ILLUMINATI T-SHIRT
abis beli kaos anti-illuminati nih hohoho . . .
pertama kali liat designnya langsung naksir, simple tapi ngena :)
sayang kloter 1 udah ditutup waktu itu, jadi bisanya pesen waktu kloter 2
dibungkus rapi dapet stiker pula, bahannya adem nggak ngecewain...shortly, worth it lha :D
Sabtu, 23 April 2011
FF : We Broke Up Today Part [8th Piece]
8th Piece : I'm complete now that I've found you2 months later . . .
Aku berlari menuju lapangan belakang KBS building. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Yoora di lapangan itu. Ah, itu dia! Gadis ini benar-benar nekat menungguku di luar padahal sekarang sudah masuk musim dingin.
“Oppa . .” wajahnya tersenyum melihatku. Aku memeluknya.
“Did our Yoora-ya really dumb? How can you wait me here? Without glove and scarf . . . and that’s purple lips!” kataku padanya sambil melepaskan syal yang aku pakai dan melilitkan ke lehernya. Aku memegang pipinya, astaga dingin sekali. Aku bertanya sudah berapa lama dia menungguku di sana dan dia menjawab dengan mengacungkan telunjuknya.
Belum ada 15 menit aku berada di luar, aku sudah merasa semua organ dalamku membeku. Bagaimana Yoora-ya yang sudah berada di sini selama satu jam?
Aku langsung menggiring nya untuk masuk ke KBS building. Aku tidak mau kalau nanti dia kena hipotermia.
“Oppa, tapi aku di luar saja ya?” katanya.
“Kau malu bertemu dengan para hyung-ku?” tembakku. Dia menggeleng keras.
“Tenang saja di sana banyak pacar-pacar para hyung. Di sana juga ada LJ, ingat?” Yoora-ya tampak sedang mengingat dan memanggil kembali ingatannya, tapi sepertinya tidak gampang.
“Dancing-machine girlfriend?” Yoora-ya memandangku ingin tahu apakah tebakannya benar atau tidak. Aku mengangguk sambil mengelus rambutnya.
Dua bulan. Hanya dalam dua bulan aku sudah bisa melihat bagaimana penyakit itu menyakiti Yoora-ku. Nona kecilku ini sudah kehilangan fungsi tangan kanannya. Orang-orang yang tidak tahu akan mengira kalau Yoora-ya itu kidal. Bagaimana pun tulisan tangan kiri Yoora-ya lebih bagus daripada tulisan tangan kanannya Jungsoo-hyung. Selain itu, Yoora juga sudah mulai lupa menyebutkan beberapa nama barang, dia selalu menyebut definisinya dulu.
“Oppa, did you see my . . . my thing?” ucapnya sambil berpikir nama benda yang ia cari.
“What thing, miina?” tanyaku tidak mengerti
“A thing for calling . . . yah, a thing for calling, what’s the name of that thing?” aku baru tahu kalau dia berusaha menyebutkan ponsel.
Dan kejadian itu tidak hanya berulang satu-dua kali, tapi berkali-kali. Dia menyebut penggaris dengan benda yang untuk membuat sesuatu itu lurus, menyebut bantal dengan benda empuk, bersama dengannya seperti bermain kuis tebak-tebakan.
“Kyuhyun-ah!” panggil seseorang. Aku berhenti berjalan dan menengok.
“Oh, Eunsae-noona! Mencari hyung?” Wanita yang memanggilku di koridor adalah Baek Eunsae. Kami dulu pernah training bersama, hanya saja dia keluar, kalau tidak dia pasti sudah menjadi artis yang sukses saat ini. Eunsae-noona ini sangat dekat dengan Jungsoo-hyung. Orang-orang yang tidak tahu pasti mengira mereka ini sedang dalam suatu hubungan spesial, aku juga awalnya mengira begitu. Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Jungsoo selalu tebar pesona pada wanita lain bahkan di hadapan Eunsae-noona, aku pasti masih percaya kalau mereka ini teman kencan.
Selain member yang tahu betapa maksiatnya Jungsoo-hyung, Eunsae-noona lah yang menjadi wanita penjaga misteri kegelapan yang di simpan rapat Jungsoo-hyung. Kadang aku pikir Eunsae-noona ini adalah wanita paling cocok untuk Jungsoo-hyung. Tapi sayang Jungsoo-hyung tidak beranggapan sama denganku.
“Eh, dangsinui yeoja chinguya?(Kau ini pacarnya?)” belum sempat aku menjawab, Eunsae-noona sudah menarik kesimpulannya.
“Yaa, tak usah kau jawab. Nonamu ini gampang sekali menjadi merah!” Aku melihat pipi Yoora-ya. Aku suka lupa kalau Yoora sekarang sudah bisa berbahasa Korea, walaupun sedikit, tapi dia mengerti apa yang diucapkan orang padanya. Yoora-ya termasuk orang yang cepat belajar untuk level orang yang menderita penyakit yang berhubungan dengan sistem kerja otak.
“Pantas saja Oppa bilang kau sudah bukan maniak game lagi!” Mereka kemudian berkenalan. Walaupun Yoora-ya sekarang sudah mengerti bahasa Korea tapi dia masih malu untuk mengucapkannya, jadi dia memakai bahasa Inggris.
Kami menuju lift, sedikit berdesakkan karena ada staf KBS lainnya yang masuk. Setelah lift berada di lantai 5 kami keluar. Kami masuk di ruang paling ujung di mana ada nama Super Junior terpampang di depan pintu.
Ketika kami masuk suasana di sana begitu ribut sekali. Aku bisa melihat Donghae-hyung dan Eunhyuk-hyung bertengkar, entah meributkan apa lagi, terakhir mereka meributkan siapa yang paling dorky di album pertama mereka. Lalu, Shindong-hyung dan Nari-ssi yang tampaknya sedang sibuk mengurusi pernikahan mereka 3 bulan lagi. Dan terakhir Jungso-hyung sedang menggodai Coordy-noona kami yang baru.
“Wo..ippeuta! Nuguseyo?” Yesung-hyung langsung bangkit dari sofa dan mendekati Yoora-ya, Yoora-ya yang tampak belum familiar atau memang takut dengan wajah Yesung-hyung yang mirip anak autis, langsung berlindung di belakangku. Semua member langsung berhenti dari kegiatannay dan memerhatikan gadis kecilku, kecuali Jungsoo-hyung yang segera menghampiri Eunsae-noona.
“Eunsae-ya, yeogiseyo?” tanya Jungso-hyung sambil mengambil alih tas Eunsae-noona.
“Siapa yang dibawa Kyuhyun-ah?” tanyanya pada Eunsae-noona tanpa menaruh peduli.
“Yoora-ya? Orenmanida!” seru Eunhyuk-hyung yang langsung mengenali siapa gadis yang aku bawa.
“Aah..akhirnya kau kenalkan juga gadismu pada kami Kyuhyun-ah!” Heechul-hyung pun ikut-ikut.
“Kenalkanlah pada kami gadis yang bisa menggoyang imanmu terhadap starcraft!”lanjut Heechul-hyung.
Aku menyeret Yoora-ya ke depan supaya dia tidak bersembunyi lagi di puunggungku. Aku bisa melihat bibir bawahnya di gigit tanda dia sedang malu.
“In korean ?” tanyanya mirip bocah TK yang bertanya pada gurunya. Aku mengangguk.
“Annyeonghaseyo… Je ireumneun Jung Yoora imnida.” Aku bisa mendengar nada suaranya bergetar. Dia gugup. Bagaimanapun aku memang bercerita padanya kalau aku menganggap Super Junior adalah keluarga berhargaku, aku ingin Yoora-ya juga dekat dengan mereka. Aku menunggu momen ini, sulit sekali untuk janjian dengan mereka. Banyak yang punya acara sendiri-sendiri, jadi baru sekarang aku bisa meperkenalkan Jung Yoora-ku.
Setelah Yoora-ya memperkenalkan dirinya dengan otomatis kami termasuk aku berbaris, dalam formasi memanjang dan menyerukan “Urineun Supyeo Juni –oeyo!”. Dimulai dari yang paling tua memperkenalkan diri.
“Leeteuk-iminida.”
“Heenim” ucapa Heechul-hyung singkat sambil mengedipkan mata kirinya. Sial!
“Yesung-imnida.”
“Siwon-imnida”
“Sungmin-imnida”
“Dancing Machine . . . Eunhyuk-imnida. Panggil saja Hyuk-oppa” aku bisa melihat Hyuk-hyung tersenyum lebar sampaai gusinya terlihat semua.
“Aku couplenya Eunhyuk . . . Donghae-imnida. Cukup Hae-oppa saja” Huh, duo ini emang tidak mau saling tersaingi ya? Menyebalkan, masih saja cari muka di depan pacar orang!
“Ryeowook-imnida” aku tahu ekor mata Ryeowook sedang melihat ke arahku. Sedang mengejekku rupanya, mau tidak mau aku menjadi teringat tentang perkataanya tentang teori konyol menyukai seseorang itu.
“Sebenarnya masih ada 3 member lagi, tapi mereka sedang absen.” Kata Jungsoo-hyung tersenyum ramah.
Aku mendekati Yoora-ya yang tersenyum malu-malu di depan mereka. Yoora-ya membisikkan sesuatu padaku.
“Is it fine to call them Oppa?” tanyanya polos. Aku menggeleng.
“In this world if there is someone you call Oppa, that is only me!” kataku yang juga berbisik. Yoora-ya mengangguk patuh.
Mereka mengajak Yoora-ya berkomunikasi. Kebanyakan bertanya bagaimana cara dia menaklukkan aku. Tapi karena keterbatasan bahasa, yang bisa nyambung hanya Siwon-hyung dan Sungmin-hyung saja.
Aku mendengar pintu berderak terbuka. Aku melihat LJ muncul lengkap dengan 10 cup coffee ditangannya. Dia begitu excited melihat Yoora-ya dan segera menghampirinya begitu meletakkan cup itu di depan meja rias.
“Waa..Yoora-eonnie, orenmanida!” serunya sambil memegang tangan Yoora-ya dan mengayun-ayunkannya, mirip seperti anak kecil yang menemukan teman masa kecilnya.
“Nari-oennie, ini yang kumaksudkan Kyuhyun-oppa sudah punya pengganti game-nya!” seru LJ lagi. Astaga anak ini kelewat senang rupanya. Aku tidak melihat Nari sedari tadi, ternyata dia memang ikut LJ membeli kopi tapi baru muncul belakangan, membuatku sedikit merasa janggal akan kehadiranya. Rasa-rasanya seperti melihat hantu yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Aku senang melihat Yoora yang gampang sekali akrab dengan orang-orang di sekitarku. Aku juga sudah mengenalkan Yoora-ya pada Ahra-noona. Tentu saja noona-ku yang satu itu menyukai Yoora-ya, dia merasa dia menemukan dongsaeng perempuannya yang telah lama hilang. Bahkan kadang aku berharap Ahra-noona bertemu dengan Yoora lebih cepat, mungkin ketika kami masih kecil, sehingga Ahra-noona tidak sempat memaksaku untuk menemaninya bermain Barbie.
***
Hari ini tumben sekali, Yoora-ya betah berada di apartemenku. Dia tampaknya masih nyaman-nyaman saja bergelung di pelukanku.
“Kau mau menginap di sini, Miina?” tanyaku dengan nada menggoda. Yoora langsung menyundulkan kepalanya sampai membentur kepalaku. Aku mengerang. Sudah kuduga respon yang sama akan terulang. Gadisku ini menolak mentah-mentah kalau aku ajak menginap di apartemenku.
“You must remember, oppa . . . orang yang boleh menginap di apartemenmu adalah keluarga dan teman priamu. I’m not your family and I’m not your namja chingu!” ucapnya. Aku tergelak dengan aturan kekanak-kanakannya. Aku mencium pucuk kepalanya dan mengetatkan pelukanku padanya.
“Oppa, besok aku mulai ikut training painting dengan anak-anak dissable. Aku tidak sabar melihat gambaran tangan kiriku.” Katanya dengan nada ceria. Aku tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya yang berwangikan lavender itu. Nona kecil ini selalu bisa ceria bahkan ketika berada di kondisi seperti ini, aku bangga terhadapnya.
“Kau mau aku jemput jam berapa?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Oppa tidak ingat kalau besok oppa ada rekaman Sukira? Aku mungkin ca…” Aku tahu dia mau bicara apa…dia akan bicara kalau dirinya itu cacat tapi dia masih bisa pergi sendiri. Tapi aku benci sekali mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Maka dari itu aku segera menyumpal bibirnya dengan bibirku sendiri.
“Sekali lagi kudengar kau bicara seperti itu…aku tidak akan pernah melepaskan bibirku dari bibirmu!” ancamku serius.
“Waah…sepertinya ancaman yang menyenangkan.” Katanya sambil menarik kerah bajuku untuk melanjutkan ancamanku itu. Dasar, gadis nakal!
Aku merasakan perubahan banyak dalam hidupku. Aku merasa bahwa hadirnya Yoora dalam kehidupanku adalah hal yang terbaik yang pernah aku dapatkan. Walau dia merasa dia banyak kekurangan karena penyakit yang dideritanya itu. Dialah yang melengkapiku, entah bagaimana caranya. Maka dari itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melengkapi hidup Yoora.
Sumpah demi apapun di dunia ini, aku tidak pernah keberatan membantunya mengiris bawang sampai aku sendiri bercucuran air mata atau mengiris apapun itu selama aku masih bisa membantu Yoora yang memasakkan masakan untukku. Aku juga tidak akan pernah mengeluh untuk membantu nona kecilku itu berkeramas, terlebih aku memang pengagum berat wangi shampoo yang dipakai Yoora-ya. Aku benar-benar merasa aku tidak akan pernah bisa lebih bahagia dari ini. Aku siap menjadi tangan kanannya. Karena aku tahu aku sama-sama mebutuhkannya seperti dia membutuhkanku.
Yoora-ya, I’m such a luckiest man in this world because I know, I had you.
| Reaksi: |
Kamis, 21 April 2011
For Your Future Hubby

Aku tidak tahu keberanian macam apa yang membawa diriku berani menghadiri pernikahan Euncha di gereja ini. Keberanian macam apa yang telah menuntun langkahku berada di tempat yang akan menjadi neraka dunia bagiku. Aku bukannya berani, aku pasti gila!
“Kyuhyun-ssi!” aku memutar kepalaku ke arah datangnya suara. Dan di sana kudapati seorang pria tampan dalam balutan jas hitam yang begitu mewah. Pria yang ingin sekali aku tonjok saat ini juga.
“Siwon-ssi? Apa yang kau lakukan di sana?” aku mendekatinya.
“Kau datang juga, Kyuhyun-ssi?” tanyanya dengan senyum paling hangat yang pernah kuterima dari lelaki manapun, tak perlu kutanyakan lagi alasan kenapa Euncha jatuh cinta padanya. Senyumnya pasti adalah salah satu alasan kenapa Euncha jatuh hati padanya.
“Setidaknya aku ingin menjadi saksi bahwa Euncha bahagia hari ini.”
Ada jeda di sana. Kami sama-sama terdiam.
“Kau masih sayang padanya.” Kalimat itu keluar langsung dari mulut Siwon-ssi. Aku tau itu bukan pertanyaan. Dia memang sedang menegaskan arti perkataanku tadi.
“Dan kau pasti ingin membunuhku saat ini juga.” Lanjut Siwon-ssi. Aku tergelak mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya.
“Kau pintar membaca pikiran orang, Siwon-ssi. Kau sungguh berbakat!” pujiku tulus. Aku memasukkan tanganku ke saku untuk mengambil sebatang rokok dan pemantiknya.
“Boleh bagi?” tanya Siwon-ssi. Aku tahu dia pasti sedang grogi menghadapi pernikahannya ini dan salah satu cara pria menghilangkan kegugupannya adalah menghisap nikotin batangan ini.
“Lebih baik jangan kalau kau ingin tetap mendapatkan ciuman pernikahan dari Euncha. Kau tahu betapa bencinya dia terhadap benda ini” aku memasukkan rokokku kembali ke saku tanpa memberikannya pada Siwon-ssi satu batang pun.
Aku menghirup rokokku dalam-dalam. Euncha benci sekali racun batangan ini. Aku masih ingat ketika kami menikah hari itu. Pernikahan kecil di gereja mungil tepat di kampung halamanku. Hanya beberapa kerabat yang kami undang, tapi tetap saja, imajinasi tentang aku menikahinya membuatku gugup setengah mati. Aku juga menghirup rokokku waktu itu dalam-dalam seperti saat ini. Dan itu membuat Euncha menolak kucium saat pastur menyatakan bahwa kami sah sebagai suami-istri.
“Kau masih ingat apapun yang ia benci, Kyuhyun-ssi?” tanya Siwon-ssi yang sepertinya kagum pada kemampuan otakku menyimpan semua memori tentang Euncha.
“Apapun yang ia sukai pun, aku masih ingat.” Kataku mengawang. Entah kenapa aku malah jadi menceritakan kehidupanku dulu bersama Euncha pada Siwon-ssi.
“Aku mencintainya yang mencintaiku. Bahkan sifatnya yang seperti anak kecil yang terkadang manja dan menjekelkan pun aku terima sebagai bagian dari dirinya yang aku cintai.
Hal pertama yang perlu kauketahui Siwon-ssi, dia senang sekali membantuku bercukur, dan aku benci hal itu. Kau tahu bukan ide baik membiarkan dia mencukurmu karena kau akan berakhir dengan dagu yang penuh luka. Tapi bila kau melarangnya, mulutnya itu tidak akan berhenti mengerucut sampai kau memperbolehkannya mencukurmu. Biarkan saja dia mencukurmu, ekspresinya ketika membantu mencukur dagumu selalu membuatmu bisa menahan rasa sakit itu.
Kedua, dia benci sekali kalau kau tidak memasak makanannya. Sekenyang apapun kau, kau harus memakan masakan Euncha. Kau harus lihat betapa banyak luka yang ia dapat hanya karena mengiris bawang.
Ketiga, pastikan dirimu ada di rumah ketika hujan. Euncha mungkin suka gerimis, tapi dia selalu takut akan petir. Kau tidak akan pernah memaafkan dirimu sendiri bila melihat Euncha menangis ketakutan hanya karena mendengar suara petir.
Keempat, Euncha sangat sayang pada anjingnya Boremir, jangan pernah sekalipun kau membentaknya di depan Euncha, walau kau tahu Boremir menyebalkan dan kau ingin membuangnya ke panti penampungan anjing terdekat, jangan memperlihatkannya di depan Euncha atau kau akan didiamkan selama seminggu tanpa diajak bicara.
Kelima, ucapkankanlah kau mencintainya sesering mungkin. Jadi kau tidak akan menyesal seperti aku. Jujur aku malas mengucapkan kata itu, setahuku toh dia sudah kunikahi jadi dia pasti tahu kalau aku mencintainya. Tapi tidak dengan Euncha, Euncha akan berpikir kalau kau tidak mencintainya lagi ketika hari itu dia belum mendengar kata cinta dari mulutmu sendiri. Jadi kau harus melisankan rasa cintamu padanya supaya dia tahu kalau semakin hari kau semakin mencintainya.
Aku bukan ingin menyombong tentang betapa aku mengenal Euncha. Aku hanya ingin kau tidak berakhir seperti aku. Aku tahu Euncha mungkin sedikit menyusahkan, dulu aku berpikir bahwa aku tidak menikahi seorang perempuan melainkan sedang membesarkan anak perempuanku. Tapi aku salah, Euncha lebih dewasa dari yang kuduga. Ternyata dulu dalam pernikahan kami yang sikapnya seperti anak-anak dan paling egois malah aku. Kau mendapatkan istri yang layak, Siwon-ssi. Aku yakin itu, karena dia adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada hidupku.” Aku menyudahi ceramahku dengan menghembuskan asap rokokku kuat-kuat ke udara.
“Aku akan ingat perkataanmu itu, Kyuhyun-ssi. Aku akan menjaga Euncha, aku janji.” Kata Siwon-ssi sambil menepuk pundakku.
“Kau lebih baik menepatunya Siwon-ssi karena hasratku untuk mematahkan lehermu akan langsung tersulut lagi begitu aku mendengar Eunchae menderita karena dirimu.”
“Siwon-hyung! Kau harus masuk, pengantin wanitanya akan segera datang!” panggil seseorang.
“Masuklah!” suruhku. Siwon-ssi melangkahkan kakinya ke dalam gereja sedangkan aku mengekor dirinya, tapi ketika dia menuju ke depan altar aku langsung mencari tempat duduk di belakang.
Aku mendengar beberapa orang kasak-kusuk tentang pengantin wanita yang sebentar lagi akan memasuki gereja. Beberapa dari mereka aku kenal, mantan ayah mertuaku dan mantan ibu mertuaku, lalu mantan iparku, Jieun, yang kini sedang menunggu anak pertamanya bersama suaminya, Hyukjae-hyung. Kami masih bertukar senyum, aku tahu mereka kaget melihatku ada di sini, tapi kau tahu mereka juga senang aku masih menyempatkan diri menghadiri pernikahan mantan istriku ini.
Dan tibalah ketika Euncha memasuki gereja ini. Dia cantik luar biasa, lebih cantik dari pada pernikahan pertamanya denganku dulu. Mungkin karena Siwon-ssi sanggup membelikan gaun seharga jutaan won dan menyewa make up artist ternama untuknya. Tapi aku tahu lebih dari itu, yang membuatnya cantik adalah karena dia memang bahagia dengan pernikahan ini.
Aku mendengar janji yang diikrarkan mereka berdua. Dan aku mendengar sang pastur mensahkan mereka berdua sebagai suami istri. Aku tersenyum getir. Tapi melihat kebahagian yang memang nyata ada di mata Euncha membuatku sedikit lega.
“Kau harus janji untuk hidup dengan baik dan bahagia, Euncha-ya. Lebih baik dari aku dan lebih bahagia dari aku, sehingga aku bisa memaafkan diriku sendiri yang melepasmu pergi.”
| Reaksi: |
Kamis, 10 Februari 2011
PPKM 1 Sanata Dharma : Who are you? And What is your dream?
Selasa, 08 Februari 2011
3 Sad Movies You Must Watch
Little did I know all people hate crying. Most people will say no for sad-ending movie, especially man. But the important thing is crying is not a bad thing. Sometimes you will feel relieving when your tears come up. At least it works for me. Ah, and I have quote for this sad things, “The bitter comes up first, so sweet things taste even sweeter.” And this is it, all sad movies from three different countries.
1. Title : I Am Sam
Directed : Jessie Nelson
Release Date : December 28th, 2001
Starring : Sean Penn, Michelle Pfeiffer, Dakota Fanning
Running Time : 132 minutes
Country : United States of America
This movie teaches us that love has not limit. It’s about a disabled father proves that even he lack and not normal, it’s really has no deal with his ability to protect, care, and love. He proves that he still has the power to do the best for his lovely daughter.
In this movie we can see, mature man who has autism complete with his 7-years-old behaviour, could show us the meaning of love, care, and how to stand up for that feeling.
It’s just about the lovability, it makes all people know that anyone has the ability for loving someone.
2.
Directed :John H. Lee
Release Date :November 5th, 2004
Starring : Jung Woo Sung, Son Hye Jin
Running Time : 144 minutes
Country : South Korea
Prepare the bucket! This movie will drain your eyes for real! Okay maybe I am exaggerating. This movie is telling about how the wife is starting to forget the husband.
I really envy with Son Ye-Jin who has such a great husband like Jung Woo-Sung. When Son Ye-Jin is suffering with her disease, alzheimer, he is the one who works hard for her recovery, even the doctor told that the disease is incurable. He make superhuman effort to keep her wife still on her track, he stucked all the papers and photos which is contain all their memories to the wall.
But nevertheless, Son Ye-Jin’s disease got worse, she even forget her husband name, forget to put some side dish in his lunch box and give him double box of rice instead. Son Ye-Jin realize it, so before she is going too far and give Jung Woo-Sung more pain, she decides to leave.
This movie will make you wonder. What’s the worst, forget or being forgotten?
3.
Directed :Takehiko Shinjo
Release Date :October 28th, 2006
Starring : Tamaki Hiroshi, Aoi Miyazaki
Running Time :116 minutes
Country : Japan
Feeling of missed and regret will come lately. That is the message of this movie.
This movie is really unique, because the main actrees in this movie has a weird disease. She will grow up more mature if she is falling in love. Her first apperance in this movie is really childish, she is actually a college student but people will tell she is an elementary school student from her looks. And finally she found her first love, Tamaki, but Tamaki never realize or we can say doesn’t care abot her feeling for him because he has set his eyes for another girl. But she told Tamaki with full of confidence that he would regret if he rejected her, because she would grow up as a pretty. She knew that she has no chancebecause there was someone who is Tamaki cares about . So she decide to go to America. And in that time when Tamaki never see her around, he know he starts to miss her .
The movie is not only tell about the regret but also the optimistic.
I hope you enjoy the movies. And please don’t hold your tears!
Selasa, 25 Januari 2011
Aku menemukan sebuah kegalauan di tengah diri sepupuku hahaha :D
| Reaksi: |
Minggu, 23 Januari 2011
Just Tell Me Then . .

aku bener-bener mungkin lagi galau tiba-tiba, karena aku nulis ini tanpa alasan yang jelas dan hanya ngikut emosi yang tiba-tiba nangkring begitu aja di siang bolong yang panasnya bahkan siap bikin orang pengen mandi tiap satu jam sekali.
aku pengen tahu salah satu resolusi tahun baru adalah aku ingin menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang bukan aku. tapi aku yang baru itu aku yang bagaimana ? bisa kamu kasih contoh? karena aku bener-bener kayak kompas yang kehilangan inti magnetnya sehingga ngebuat dia nggak bisa bedain mana utara dan selatan?
apa aku yang baru harus ngelupain tuan kopi? Tuan kopi, yang bahkan sekarang entah kenapa nama samaran itu udah nggak bisa terlalu bebas buat aku gunain. Aku yang udah nggak ketawa kayak kuda kesurupan kuntilanak, atau aku yang udah bisa tampil layaknya anak-perempuan-kebanggaan-ibu, yang bahkan aku nggak tahu kriterianya apa aja selain bisa masak, nyuci, dan asah-asah?
aku yang baru itu aku yang bagaimana ?
| Reaksi: |
Rabu, 19 Januari 2011
Politik Dramatisasi : Gayus dengan segalanya :(
Hampir sepuluh bulan tuh kasus benang ruwet mafia pajak nggak ada kelar-kelarnya. Keliatan banget kalo kasus ini cuma di minimize biar nggak mbleber ke the truly godfather. Ya, di logika aja deh, secara Gayus itu istilahnya masih kecebongnya, tentu aja pasti ada induk kodoknya khan? kenapa induk ini nggak diselidikin? Malah adanya Gayus dipojokin begitu. Bukannya aku mbela si corruptor on vacation itu lho, tapi jelas kok kita semua tahu, masyrakat Indonesia toh nggak bodoh-bodoh amat, di balik Gayus ada mafia XXXXXXXXXL yang perlu diringkus.
Aku emang cuma mahasiswi yang bahkan belum lulus (waktu nulis ini aja aku nggak tau IP ku di semester I) tapi aku punya pendapat bahwa negri ini emang kacau berat. Aku nyadar di negeri ini kepala negara bukan lagi seorang presiden, tapi segepok uang. Intruksi-intruksi itu cuma sekedar omong doang, nggak terealisasi. Dulu aku masih punya harapan sama pemerintah, bagaimanapun aku selalu menjadi orang yang memberi kesempatan orang lain untuk membuktikan omongannya. Tapi ngeliat kasus Gayus seperti ini, cuma bisa ngangkat alis, negriku hebat sekali . . .
Aku nggak mau sok pintar dengan nyalahin pemerintah dan protes sana kemari. Tapi bolehlah ngasih kritik, yang hidup di negeri ini bukan cuma orang kaya, ada anak-anak miskin yang bahkan harus mati terlebih dahulu sebelum tahu dia itu orang Indonesia, itu karena saking miskinnya gizi mereka. Banyak yang perlu dikayakan, kenapa malah mengayakan diri sendiri? Kalian itu punya kewajiban untuk menyejahterakan kami, bukannya malah asyik nyembunyiin uang rakyat dengan bentuk deposito bermilyar-milyar!
Kenapa nggak manggil Uya Kuya aja sih? Dia pasti bisa deh mbongkar semuanya dalam 1 jam sesi hipnotis-tisu-kebakar-rahasia-langsung-terbongkar itu! Atau Dedy Corbuzier yang katanya bisa mind reading! Atau apalah ya . . . yang penting bisa mbongkar kebusukannya itu. Kalo ntar lansung ketauan boongnya, biar rame-rame kita telanjangin tuh Mafia Pajak dan Hukum, kita arak, langsung kita bagi : Gelombang I ( kita oncalin ke kawah merapi ), Gelombang II (ditenggelemin di lumpur Lapindo), dan Gelombang III (kita sangkutin di baling-baling Helikopter)
mungkin politik memang jalan yang kotor dan penuh misteri . . . ya sudahlah bukan concern ku juga, lebih baik sekarang aku berdoa semoga IP semester I ku bulat 4 ( amin :D )
| Reaksi: |


